Rabu, 11 Januari 2017

PENDIDIKAN GAYA BANK

yusril | Rabu, 11 Januari 2017,00.25 |

PENDIDIKAN GAYA BANK


Anak didik bukan celengan yang terus diberi uang recehan
Pada kesempatan ini penulis ingin memberikan sedikit kritikan pendidikan masa kini dari sedangkal pahamannya. Indonesia yang kala ini katanya telah merdeka 71 tahun lamanya, namun ketika kita melihat dibalik sisi pendidikannya sungguh memperihatinkan. Sistem pendidikan yang terus berubah-ubah yang bisa dikatakan sistem yang labil, membuat para siswa kebingungan dan mereka menjadi ajang percobaan sistem. Para siswapun mengeluh atas kebijakan-kebijakan pemerintah yang sangat tidak memikirkan nasib mereka, yang tak kala lucunya lagi sistem belajar di dalam kelas yang membuat para siswa menjadi pasif dan pemikiran mereka terkunkung dan alhasil esensialnya terganggu yaitu takakan jadi manusia yang seutuhnya. Siswa yang duduk di sekolah dasar hingga perguruan tinggi sekalipun seakan menjadi robot-robot yang di kendalikan oleh remot yang di kuasai oleh para pendidik maupun pembuat sistem pendidikan itu sendiri. Tak usah berpanjang lebar kita masuk ke inti pembahasan berikut ini:

 Pendidikan gaya bank mungkin teman-teman pembaca sudah tidak lazim mendengar hal ini. pendidikan gaya bank adalah dimana seseorang tenaga pendidik sebagai penabung dan anak didik sebagai deposit(tempat menabung). Suatu analisis yang baik tentang hubungan antara guru-murid pada semua tingkatan, baik di dalam maupun luar sekolah, mengungkapkan watak bercerita yang mendasar di dalamnya. Hubungan ini melibatkan seorang subyek yang bercerita (guru) dan objek-objek yang patuh mendengarkan (murid-murid). Materi pembelajaran yang seakan-akan diceritakan membuat keadaan tidak hidup alis kaku dalam proses belajar mengajar. Pendidikan sudah terjerumus ke penyakit cerita semacam ini.

Murid seakan seperti piring yang kosong yang membutuhkan makanan diatasnya, seolah-olah murid tidak mengetahui apa-apa sedangkan guru menjadi seorang yang tahu atas segalanya. Dari sekolah dasar ketika kita diperhadapkan oleh soal matematika misalnya "Dua kali dua sama dengan empat" murid-murid pun mencatat, menghafal dan mengulangi ungkapan-ungkapan tersebut tanpa memahami apa arti sesungguhnya dari dua kali dua itu sendiri. Itulah realita murid menghabiskan hari-harinya di dalam kelas, hingga saat ini budaya kritis dan kreativitas siswa sangat terancam.

Dalam konsep pendidikan gaya bank, siswa yang mungkin memiliki pengetahuan yang memumpuni menjadi seorang yang dia anggap bodoh ataupun sama dengan siswa-siswa lainnya. Meanggap bodoh secara absolut pada orang lain adalah sebuah ciri ideologi penindasan, sedangkan murid  tidak pernah merasakan dirinya tertindas sama sekali dan persis menjadi budak-budak mafia pendidikan, Dan akibatnya penilain dalam kelas seraya kurang objektif sebab semua mendapat nilai satu rasa.

Lain halnya lagi dalam pendidikan gaya bank dimana murid menjadi celengan yang ketika isinya sudah penuh, merekapun kebingungan mau ia kemanakan ilmu  yang di berikan oleh gurunya? seharian yang di habiskan untuk menghadapi guru killer membuat siswa tertekan dan merasa ketakutan, apalagi ketika akan di hadapi dengan ulangan harian hingga semester, seperti membuat para siswa keolahan mempelajari ulang materi-materi yang penabung berikan sama mereka dan akhirnya lagi-lagi sikap mandiri mulai terkungkung oleh sistem pendidikan yang menjadi masalah yang harus diselesaikan.

Akhir tulisan ini penulis ingin mengajak teman-teman pembaca untuk mengubah pola pikir yang sudah terbawa dari tingkat sekolah dasar. Belajar bukan hanya sekedar  nilai, dan belajarpun bukan hanya di dapat di dalam kelas melainkan kita dapat belajar dimana-dimana, bisa membuat kelompok belajar, membaca buku, minta diajar oleh senior ataupun diskusi bersama orang-orang yang ada disekitar kita. Sebab dunia pendidikan sudah dipenuhi oleh mafia-mafia yang tidak mementingkan kecerdasan anak bangsa namun hanya mementingkan perutnya sendiri. akhir kata tetaplah berpengetahuan dan jangan berhenti membaca buku sebab dengan memperluas wawasan kita akan memiliki senjata-senjata untuk melawan kolonial-kolonial pendidikan masa kini.


"Berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain, karena itu sama saja dengan menghina dirimu sendiri." 
-BILL GATES-
 



0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.